Jumat, 14 Januari 2011

Hepatitis Akut Picu Kanker Hati!


Penyakit peradangan hati atau yang lebih dikenal dengan hepatitis sudah menjadi 'wabah' di Indonesia. Hepatitis biasanya terjadi karena virus dan jika sudah akut akan memicu kanker hati.

Hepatitis biasanya terjadi karena virus, yaitu A, B, C, D atau E. Namun, paling populer adalah hepatitis A, B dan C. Hepatitis yang yang akut berlangsung kurang dari enam bulan, sedangkan hepatitis kronis berlangsung lebih dari enam bulan. Sedangkan dari sisi ekonomi, penyakit ini merupakan masalah kesehatan yang sering 'menguras' kantong penderitanya.

Guru Besar Fakultas Kedaktoran Universitas Indonesia (FKUI) Prof. Dr. H. Ali Sulaiman, PhD, SpPD, KGEH, FACG mengatakan angka penderita hepatitis B di Indonesia saat ini mencapai 12 juta jiwa, sebanyak 500.000 di antaranya merupakan penderita aktif.

Adapun hepatitis C berkisar lima juta jiwa, dengan 200.000 pengidap aktif. Uniknya lagi, sebagian besar penyandang hepatitis berada di Jakarta.

"Dari total jumlah pasien hepatitis tersebut, hanya 30% saja yang mendapat pengobatan tepat, sisanya sekitar 70% nyaris tidak terjamah," ujar Prof Ali.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan DKI Dr Dien Emawati, kasus hepatitis virus banyak ditemukan dalam praktik klinik sehari-hari. Namun, biasanya
pasien sudah datang dalam kondisi lanjut karena terlambatnya diagnosis.

Penyebab keterlambatan itu antara lain karena penyakit tidak menunjukkan gejala dan tanda klinis yang jelas. Penyakit itu biasanya luput dari diagnosis oleh dokter karena perjalanan penyakit tidak nyata, dan penderita kerap tidak merasakan atau menyadarinya.

Fellow researcher Mochtar Riady Institute for Nanotechnology (MRIN) Karawaci Tangerang, Dr. Ivet Marita Suriapranata menjelaskan, perlu deteksi dini untuk mencegah penyakit hati menjadi lebih parah.

Menurut Dr. Ivet, infeksi virus hepatitis akut dapat menyebabkan kanker hati. Di Indonesia, umumnya penderita kanker hati parah terinfeksi virus hepatitis B atau C yang ditularkan melalui cairan tubuh.

"Hal itu terjadi baik lewat hubungan seksual, jarum suntik, dan transfusi darah," tegas Dr. Ivet.

“Pasien datang biasanya kalau sudah telat. Apalagi saat ini pengobatannya mahal dan obat yang ada sekarang hanya mampu memperpanjang usia penderita sampai tiga bulan. Jadi deteksi dini itu penting. Kalau bisa prevensi (pencegahan),” tambahnya.

Virus dan penularannya

Di Jakarta sudah sekitar 1.000 dokter puskesmas dilatih dengan harapan mereka dapat mengenali hepatitis B, melakukan deteksi dini, dan merujuk ke layanan rumah sakit jika tidak bisa diobati di puskesmas. Jika ternyata hepatitis yang diderita seseorang berkembang menjadi sirosis atau kanker hati, pengobatan akan sangat mahal.

Deteksi dini juga penting agar tidak terjadi penularan dari orang dewasa ke orang dewasa lain melalui kontak darah atau dari ibu ke bayi yang akan dilahirkannya.

Hepatitis B dan C harus lebih diwaspadai karena bisa menjadi kronis. Jika peradangan pada hati akibat infeksi virus hepatitis B (VHB) atau hepatitis C (VHC) sudah pada tahap kronis, organ hati bisa mengerut dan mengecil atau disebut sirosis. Risiko kanker hati atau kematian akibat gagal hati pun mengintai.

”cakupan vaksinasi hepatitis B bagi bayi sangat penting. Hepatitis C belum ada vaksinasinya,” ungkap Prof Ali.

Seperti kita ketahui, Virus hepatitis B ditularkan melalui darah. Penularan biasanya terjadi diantara para pemakai obat yang menggunakan jarum suntik secara bersama-sama, atau di antara mitra seksual, baik yang heteroseksual maupun lelaki homoseksual. Ibu hamil yang terinfeksi oleh hepatitis B dapat menularkan virus itu pada bayi selama proses persalinan. Hepatitis B bisa ditularkan oleh orang sehat yang membawa virus hepatitis B.

Di wilayah Timur Jauh dan Afrika, beberapa kasus hepatitis B berkembang menjadi hepatitis menahun, sirosis dan kanker hati. Vaksin hepatitis B yang aman dan efektif sudah tersedia sejak beberapa tahun yang lalu. Mereka yang berisiko tertular hepatitis B adalah para pencandu narkotika, dan orang yang mempunyai banyak pasangan seksual.

Sedangkan Virus hepatitis C menyebabkan minimal 80% kasus hepatitis akibat transfusi darah. Virus hepatitis C kerap ditularkan melalui pemakai obat yang menggunakan jarum secara bersama-sama. Jarang terjadi penularan virus hepatitis ini melalui aktivitas hubungan seksual.

Beberapa kelompok risiko tinggi hepatitis adalah pemakai narkoba suntik, penerima darah atau produk darah sebelum 1992, atau yang belum diskrining VHC pada Bank Darah, penerima transplantasi organ yang belum diskrining VHC, pasien hemofilia, pasien cuci darah (hemodialisis), pasien yang menjalani prosedur medis atau gigi dengan alat yang tidak steril, serta tenaga medis yang tertusuk instrumen yang terkontaminasi. Risiko hepatitis juga mengintai orang dengan mitra seksual terinfeksi VHC (tanpa kondom), terutama laki-laki homoseksual.

Sebagai tindakan awal, kelompok risiko tinggi sebaiknya mencari tahu bilakah mereka terinfeksi VHC. Caranya, berkonsultasilah dengan dokter (umum, spesialis penyakit dalam ataupun spesialis hati). Bila diperlukan, dokter akan menyarankan pemeriksaan darah untuk memastikan ada tidaknya infeksi VHC.

Beberapa teknik diagnostik yang dikenal, di antaranya pemeriksaan anti-HCV dengan metode ELISA dan pemeriksaan VHC dengan metode PCR. Adapun tes yang paling sensitif dan spesifik adalah pemeriksaan VHC dengan teknik PCR menggunakan Cobas Amplicor Roche Diagnostic.

Selain pengobatan rutin, tindakan preventif yang tak kalah penting ialah vaksinasi hepatitis B. Infeksi hepatitis B saat dewasa kemungkinan berkembang menjadi penyakit hati menahun, sirosis, atau kanker hati sekitar lima persen. Sebaliknya, infeksi virus hepatitis B yang terjadi saat lahir, risiko menjadi parah sekitar 95%. [inilah.com]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar