Sabtu, 01 Januari 2011

Pulau Bidadari Labuhan Bajo Perlu Polesan


Potensi pariwisata Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), ingatan orang pasti tertuju kepada Pulau Komodo. Namun selain itu ternyata ada keindahan alam lainnya yang juga ada di sini yakni Pulau Bidadari.

Pergi ke NTT, terutama ke Kabupaten Manggarai belum lengkap jika tidak menjejak pulau tandus yang dikelilingi bentangan laut biru berarus garang. Kabupaten yang berlokasi di ujung barat Pulau Flores ini memiliki puluhan objek wisata dan atraksi wisata menarik.

Sayang, keterbatasan kemampuan keuangan daerah memaksa objek dan atraksi wisata itu masih jauh terbelakang dalam hal fasilitas dan daya dukung yang lain. Padahal, dengan sedikit saja polesan semacam lipstik pariwisata, potensi-potensi yang ada itu sejatinya sangat layak dijual kepada wisatawan mancanegara maupun domestik.

Objek dan atraksi wisata itu belum sepenuhnya bisa dijual kepada turis. Padahal, pulau bidadari ini secara rutin dikunjungi wisatawan asing karena keindahan pulau berpasir putih, airnya nan jernih dan terumbuh karangnya yang indah serta ikan hias yang hidup.

Secara umum, pulau yang terletak di antara gugusan pulau di Labuan Bajo ini memiliki panorama wisata bahari yang menakjubkan. Pulau itu menjadi salah satu primadona wisata karena terdapat taman laut, dengan keanekaragaman ikan hias.

Untuk menuju lokasi diving maupun snorkeling di Pulau Bidadari cukup memakan waktu 15 menit dari labuhan bajo mengunakan kapal kayu dengan harga sewa RP 500 ribu.

Sayang pulau yang indah ini kini dikuasai pasangan suami istri Inggris, Ernest Lewandowski dan Kathleen Mitcinson. Pasutri itu mengantongi hak guna pakai pulau itu hingga tahun 2035.

Kini Pulau Angel Island disulap menjadi wilayah wisata dengan jajaran bungalow dan lokasi diving. Pantai pulau itu dikelilingi dengan pasir putih yang indah. Setidaknya ada dua papan yang ditulisi larangan masuk ke pulau pribadi itu.

Dia melarang para nelayan dan penduduk setempat mendekati pulau tersebut karena para nelayan sering merusak terumbu karang yang masih sangat indah di wilayah itu. Sedangkan penduduk setempat kadang dengan seenaknya selalu membuang sampah sembarangan baik di laut atau di pulau pada lokasi taman wisata tersebut.

Ada beberatus meter saja yang tersisa pantai pasir putih di Pulau Bidadari untuk umum. Selebihnya dikelola pasutri dari Inggris tersebut.

Sayang keberadaann Pulau Bidadari yang diperuntukkan untuk umum dan biasa disinggihai turis mancanegara keberdannya snagat kotor dan tidak terawat. Sunguh sayang, memang, ini pekerjaan rumah bagi Pemda Mangarai Barat.

Jauh berbeda dengan Pulau Bali yang eksotik dan nyaman untuk disinggahi, semua fasilitas tersedia, sedangkan Pulau Bidadari yang telah diagung-agungkan diumbar dan dibiarkan dengan tumpukan sampah tanpa ada fasilitas apapun. Sunguh ironis memang, tapi itulah kenyataannya.
Jadi kalau mengunjungi pulau Bidadari, kita harus siap dengan air mineral dan membawa makanan sendiri. Bahkan tempat untuk berganti pakaian mauapun buag hajat ja tidak ada sama sekali. Berganti baju cukup di balik semak-semak atau rerimbunan pepohanan.

Sungguh Ironis, padahal turis dari Belanda, Ausralia, Inggris dan Jerman suka berjemur dan bersantai seusai diving atau snorkelling.

"Disini indah dan tenang tapi kotor pantainya dan banyak sampah," ujar Willem turis asal Belanda yang melkukan diving bersama anak dan istrinya.

Sungguh sayang jika potensi Pulau bIdadari yang menawan dibiarkan begitu saja. Berbeda dengan Pulau Bidadari yang dikelola pasutri tersebut, kini ada 10 bungalow yang tarifnya seklai inap 125 US. Padahal tempatnya berjejer namun pengelolaanya jauh berbeda.(tribunnews)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar