Minggu, 02 Januari 2011

Indonesia Peringkat ke-2 di ASIA Sebagai Pengguna Twitter


Twitter kini semakin riuh. Di Indonesia, jumlah penggunanya naik terus secara eksponensial dalam satu tahun belakangan ini. Pada bulan yang sama tahun lalu diperkirakan jumlahnya hanya 500 ribuan, namun kini sudah lebih dari 5 juta. Dengan jumlah pemakai sebesar itu, Indonesia menduduki peringkat kedua negara dengan pemakai Twitter terbanyak di Asia. Data Google yang dikeluarkan pada 20 Februari 2010 menunjukkan peringkat sepuluh besar negara di Asia dengan jumlah pemakai Twitter terbanyak adalah:

1. Jepang: 9.9 juta
2. Indonesia: 5,1 juta
3. India: 4,2 juta
4. Korea Selatan: 1,5 juta
5. Filipina: 1,3 juta
6. Thailand: 910 ribu
7. Malaysia: 910 ribu
8. Cina: 680 ribu
9. Singapura: 240 ribu

Lantas apa artinya statistik pengguna dan peringkat itu? Bagi kalangan bisnis dan para pemasar, melejitnya jumlah pengguna Twitter bisa dilihat sebagai pasar yang tumbuh cepat. Dan itu berarti naiknya potensi dan peluang bisnis. Makin besar sebuah populasi, makin cepat bisnis berkembang, dan kian banyak barang/jasa yang bisa dijajakan melalui Twitter–seperti yang dilakukan Dell.

Produsen komputer itu bisa disebut sebagai contoh sukses perusahaan yang memanfaatkan Twitter sebagai alat bantu pemasaran. Dengan identitas akun @DellOutlet, perusahaan ini mampu menjaring 620 ribu pengikut (follower) dan meraup US$ 2 juta hanya dalam waktu enam bulan atau dua kali lipat pendapatan tahun sebelumnya.
Bagaimana Dell meraih kesuksesan itu? Sederhana saja. Dell benar-benar mendekati konsumen dengan membuka akun di Twitter. Dia bercakap-cakap dengan para “pekicau”, menjawab pertanyaan pengikutnya. Dia juga berbagi info terbaru mengenai produk-produk terbaru atau memberikan solusi bila pelanggannya mengeluh. Dan yang paling sering, menawarkan program diskon.
Salah satu contoh “kicauan” @DellOutlet adalah “20% off any Dell outlet printer. Expired 6/2 or after 1st 500 redemptions”. Isinya singkat dan jelas, tapi cukup menggoda hati calon pembeli. Tak mengherankan bila dengan kicauan-kicauan seperti ini, pengikut Dell bertambah terus setiap hari. Para pengikut baru ini tak mau ketinggalan kabar tentang program pemasaran khusus atau diskon dari Dell.
Banyak perusahaan lain, termasuk di Indonesia, yang kemudian mengikuti jejak Dell dengan membuka akun di Twitter. Beberapa berhasil, lebih banyak yang gagal. Ada beberapa penyebab kegagalan itu.
Kebanyakan di antara mereka memang sudah memahami pentingnya menciptakan identitas merek yang kuat bagi pemasaran dan periklanan. Tapi mereka rata-rata belum tahu apa yang harus dilakukan begitu masuk Twitter.
Mereka malah kebingungan harus melakukan apa di media sosial ini. Padahal tak susah-susah amat bermain di media tempat orang “berkicau” ini.
Bagaimana caranya? Yang pertama, jadilah seperti manusia. Perusahaan harus membuat mereknya mampu “bercakap-cakap” sebagaimana manusia berbicara. Brand harus memiliki “suara” manusia. Suara tersebut mencerminkan sifat dan karakter merek.
Ketimbang membombardir para pengikut dengan iklan, cobalah memberi mereka informasi. Penjual buku daring, misalnya, bisa mengirim posting berisi daftar buku terbaru minggu ini, memberikan penjelasan singkat tentang sebuah buku, dan sebagainya.
Kedua, jangan jadi robot dengan terus-menerus mengirimkan tautan berita secara otomatis atau umpan RSS di Twitter. Para pekicau itu umumnya cukup melek teknologi. Mereka paham cara melanggan umpan RSS sebuah situs web.
Sebuah perusahaan boleh saja mengirim tautan sebuah kabar terbaru atau umpan RSS, tapi sebaiknya ada orang yang memberikan penjelasan dan konteks. Tautan hanya akan menarik bila orang yang mengirimnya kredibel dan memberikan penilaian apakah link tersebut bermanfaat atau tidak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar